Yohan Tirtawijaya: Terinspirasi Richard Gere

Yohan Tirtawijaya: Terinspirasi Richard Gere Barangkali karena tertantang mencari pengalaman baru itulah Yohan sempat bingung ketika akan memilih jurusan pada saat hendak kuliah. Namun, sebuah film yang dibintangi RichardGere mendadak mengilhamkan sesuatu baginya. Richard Gere yang sedang memerankan seorang arsitek memamerkan karya menarik berbentuk maket. Maket itulah yang lantas membuat Yohan berketetapan hari untuk menjadi seorang arsitek.

Yohan melihat betapa menantang profesi seorang arsitek. Pada setiap proyek, selalu ada desain yang berbeda. Inilah tanda yang menurutnyamerupakan kompatibilitas dengan karakternya.”Profesi ini jauh dari membosankan, bahkan memberikan kepuasan yang bakal menyenangkan,” demikian pikirnya saat itu mendorongnya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur ITB Bandung.

Richard Gere yang sedang memerankan seorang arsitek yang memamerkan karya menarik berbentuk maket. Maket itulah yang lantas membuat Yoh berketetapan untuk menjadi seorang arsitek

Namun, jalan hidup tak selamanya mulus. Tepat pada 1998, badai krismon alias krisis moneter menerpa lautan ekonomi Indonesia. Tiba‑tiba saja, profesi arsitek sepertinya tak lagi menjanjikan. Ketika satu demi satu perusahaan properti berguguran. pembangunan perumahan banyak yang tertunda. Menurut Yohan, sekitar 90% teman-temannya yang lulus dari jurusan Teknik Arsitektur akhirnya menerima pekerjaan apapun asal bisa bekerja. Namun, untunglah ia memperoleh kesempatan bekerja di sebuah biro konsultan desain arsitektur PMA (Penanaman Modal Asing) di Bandung yang saat itu sedang menangani proyek hotel Chedi. Selama setahun ia pun terlibat dalam design developnent hotel tersebut di Hang Zhou, Cina. Baginya, pengalaman bekerja dalam tim yang dikepalai oleh arsitek senior asal Yugoslavia dan Prancis itu merupakan pengalaman berharga untuk belajar mengenal proses produksi sebuah kantor konsultan arsitek.

BIODATA

YOHAN TIRTAWIJAYA

Lahir: Bandung, 17 November 1976 Email: yohan@bdg.cetrin.net.id

 

PENDIDIKAN:

2005 S2 Prasetya Mulya Business School, Jakarta

1998 S1 ITB Jurusan Teknik Arsitektur

 

NAMA USAHA:

Konsultan Arsitektur CV. Genesis Plus: architecture-interior­contractor

Website: www.genesisplus.co.id

Alamat: Paskal Hypersquare A 20 Lt. 4, Ji. HOS Cokroaminoto 25-27, Bandung, Jawa Barat.

Telp/Fax. : 022 70500599. Hp: 0811 229525. Email: genesis@bdg.centrin.net.id

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Wirausaha Muda Mandiri

2008 Pemenang Sayembara Desain Gereja GKI Anugerah – Bandung

2008 10 Desain Terbaik Lomba Desain Dapur Gramedia- Seri Rumah Ide, Imelda Akmal

Architecture

KARIER/PROFESI:

2000 Asisten Arsitek di ACI Architect Singapore

1998 Junior di Denniston Consultant Ltd. Bandung

Merasa sudah memperoleh bekal pengalaman, Yohan memberanikan diri membuka biro konsultan arsitek sendiri. Kesempatan itu datang ketika ia bekerja, ia memenangkan sayembara gereja GKI Anugerah di Jalan Protokol Bandung. Pada pandangannya inilah proyek perdana yang bisa dijadikan momentum awal usaha Bermodalkan proyek ini, sisa gaji bulan terakhir dijadikan modal usaha. “Uangnya tidak sampai sejuta rupiah, tapi saya bertekad bulat akuisisi garasi milik orang tua sebagai ruang kerja,” katanya tertawa mengenang. Itulah asal mulanya ia mendirikan biro konsultan anti Genesis Architects.

Ternyata tekad bulat bukan satu-satunya modal yang diperlukan untuk memulai usaha. Selama setahun, ia hanya mendapatkan beberapa proyek desain rumah tinggal yang bisa dihitung dengan jari “Saat itu, memang saya tidak punya rencana marketing, finansial, maupun pengembangan usaha. Dalam bayangan saya, proyek akan datang dengan sendirinya. Wah, ternyata itu hanya mimpi di siang bolong” tambah Yohan. ‘Statusnya’ sebagai self employee tidak lantas berganti ke kuadran employer karena jumlah order tak kunjung bertambah. Dengan kondisi yang tidak maju-maju dan putus asa, lama-lama ia tergiur dengan cerita teman-temannya yang bekerja di luar negeri dan membawa pulang dolar yang makin lama semakin berharga dibanding­kan rupiah saat itu.

Modal tekad bulat akhirnya berganti menjadi nekat bulat untuk mencari pekerjaan ke Singapura, demikian Yohan menggambarkan situasinya saat itu. Tanya ada jaminan mendapatkan pekerjaan di negeri jiran yang makmur itu, ia langsung melamar ke perusahaan konsultan secara door to door. Memperoleh tiga kali kesempatan interview, dalam waktu dua minggu akhirnya ia diterima bekerja di sebuah konsultan lokal ACI Architects.

Saat itu, barulah Yohan merasakan senangnya hidup mapan sebagai asisten arsitek. Namun, ia tetap memiliki biro arsitek sendiri.

Wah, ternyata itu hanya mimpi di siang bolong,” tambah Yohan. ‘Statusnya’ sebagai self employee tidak lantas berganti ke kuadran employer karena jumlah order tak kunjung bertambah