Yohan Tirtawijaya: Menambah Keahlian

Yohan TirtawijayaDari kekecewaan itu, Yohan menyadari bahwa is perlu belajar lebih banyak untuk memberikan layanan yang lebih baik dan berkembang lebih pesat. Dengan kondisi usaha yang seadanya sambil bekerja di waktu siang ia melanjutkan studi S2-nya di Prasetya Mulya Business School di Jakarta setiap malam. Impiannya adalah melengkapi ilmu dasar arsiteknya dengan pengetahuan manajemen bisnis yang dibutuhkan.

Lambat laun, prinsip-prinsip Yohan mengenai bisnis semakin jelas. Salah satunya adalah, apabila usaha dijalankan dengan benar maka perlu ada kejelasan target market agar usaha marketing yang dilakukan dapat sesuai dengan target market yang dituju. Sambil belajar ilmu-ilmu marketing di tempat kuliah, ia langsung mencoba menerapkannya di tempat usaha. Dari mencoba  berpromosi dengan mengikuti pameran desain di Jakarta, mempublikasikan karya-karyanya lewat kerja sama dengan pihak media, hingga bekerja dengan developer ternama untuk membuat show unit interior hingga talon konsumen dapat melihat dan merasakan secara langsung kualitas produksi interior Genesis.

Siapa menabur benih dia juga yang akan menuai panen. Ungkapan itu juga berlaku pada pengalaman hidup Yohan. Selama beberapa tahun terakhir ia menuai sukses yang cemerlang. Dari kegiatan promosi aktif menjemput bola Yohan mulai meluaskan target market ke luar Bandung.

Siapa menabur benih, dia juga yang akan menuai panen. Dari kegiatan promosi aktif menjemput bola, Yohan mulai meluaskan target market ke luar Bandung. Proyek yang dikerjakan pun meluas mulai dari Medan, Padang, Batam, Jabodetabek, hingga ke Balikpapan.

Proyek yang dikerjakan pun meluas mulai dari Medan, Padang, Batam, Jabodetabek, hingga ke Balikpapan. Istilah ‘jago kandang’, tidak ada dalam kamus perusahaannya. Bahkan salah satu klien yang menggunakan jaanya berasal dari Hong Kong dan Malaysia. Pengalaman bekerja di Singapura yang cuma setahun seolah-olah menjadi tempat pembelajaran untuk bisa berbisnis dengan klien luar negeri.

Ilmunya – dari teori maupun pengalaman – menelurkan strategi yang jitu. Di antaranya, perusahaannya menyediakan produk dan layanan jasa dengan cara yang kreatif, inovatif, dan affordable alias harga terjangkau. Nama usahanya pun berubah pada tahun 2007 dari CV. Genesis menjadi CV. GENESISPLUS, karena adanya filosofi ingin memberikan nilai tambah dalam tiap layanan dan produknya. Dengan pada fokus target konsumen end user dan retail ia kini lebih banyak menangani proyek bangunan berskala 15-20 tukang bangunan dengan durasi proyek 3-6 bulan, dan rata-rata proyek interiornya melibatkan  8-10 tukang kayyu dengan finishing sampai 1 bulan ia lebih terarah menetapkan strategi strategi marketing. Modal 10 juta yang ditanam 7 tahun lalu kini tumbuh dan berkembang berlipat-lipat.

“Bahkan strategi bisnis juga langsung saya terapkan pada calon istri saya yang saat itu berprofesi sebagai guru les piano privat,” kata Yohan yang menikah dengan Elsye Elisabeth Winata. Profesi sang istri ditanganinya langsung. Mulai dari sewa tempat, membeli peralatan musik dan fasilitas lainnya hingga overhead untuk membiayai SDM, “Puji syukur kepada Tuhan karena kesabaran dan ketekunan mengelola usaha kedua dengan modal hobi istri saya ini bisa membuahkan hasil,” ungkapnya lagi.

Semua hasil karya desain rumah dan interior ditujukan agar pemakai dapat merasakan kualitas desain yang baik. Idealisme itu pula yang ia sematkan dalam produk unggulan yang membuatnya terpilih sebagai finalis tingkat nasional WMM Mandiri dari Bandung.

Tapi penghargaan sebagai finalis WMM tidak menjadikan Yohan berpuas diri. Sebab respons Yohan tentang sukses sederhana saja; syukuri kesuksesan yang telah tercapai, namun tetap ingat masih banyak anak tangga tantangan dan kesuksesan lainnya yang menunggu untuk dicapai. Masih banyak ruang untuk peningkatan kualitas layanan dan improvisasi dengan semangat untuk menjadi yang terbaik.