Saptuari Sugiharto:Terinspirasi Tawuran

Terinspirasi TawuranSejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptu telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah, beberapa usaha dijalaninya. Mulai dari menjadi tas di koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker hingga sales dari agen kartu seluler dan rokok. Perubahan besar terjadi pada 2004, ketika Saptu bekerja sebagai event organizer disebuah perusahaan di Yogyakarta. Ia terheran-heran melihat salah insiden dalam konser Dewa di mana para penggemar ribut sampai memicu tawuran hanya karena berebut merchandise sang artis.

Dalam benak Saptu, merchandise berlogo atau bergambar sele­briti seperti t-shirt, pin, topi dan lain sebagainya itu, sebetulnya dapat dibuat dan diperbanyak sendiri. “Jadi, tak perlu tawuran segala. Dari situ saga pikir, merchandise juga sebenarnya bisa dipersonalisasi untuk setiap orang, dan bisa jadi hadiah,” ungkapnya.

BIODATA

 

SAPTUARI SUGIHARTO, S.SI

Jogjakarta, 8 September 1979 Email: saptuari@yahoo.com

PENDIDIKAN:

1998 – 2004 SI jurusan Perencanaan Pengembangan Wilayah Fakultas Geografi , Universitas Gajah Mada

NAMA USAHA:

Graha Kedai Digital

Website: www.kedaidigital.com

Alamat: JI. Gambir No.6A Deresan, Yogyakarta Telp: 0274 7480080, Fax: 0274 6411481

Hp. 081904220888, 0274-7882008. Email: kedaidigital@yahoo.com

PENGHARGAAN :

2007 Wirausaha Muda Mandin Kategori Mahasiswa Program Pascasarjana dan Alumni

2008 Penghargaan ISEMBA Indonesia Small & Medium Business

2008 Entrepreneur Award > versi Majalah Wirausaha dan Keuangan

LAIN-LAIN :

2004 Sales Agent Kartu Halo Telkomsel Yogyakarta

2004 Data Adminstrator PT. Gamatechno UGM

2001 Marketing Radio Swaragama FM

2000 Crew produksi Waton Stiker Jogja & Supplier Stiker di Kopma- Kopma di Yogyakarta & Solo

2002 Campus Event Manager Sampoerna A Mild untuk area UGM

1999 Penjual celana Gunung di Kampus-kampus

1999 Peternak & Penjual Ayam Potong

1998 Penjaga Penitipan Tas di Kopma UGM

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 mantan marketing Swaragama FM itu mengambil langkah berani. Ia mendirikan Kedai Digital – perusahaan yang memproduksi barang-barang cinderramata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Untuk moal awal, ia rela menjual motor dan meminta orangtua menggadaikan rumah keluarga, akhirnya terkumpul modal sebanyak Rp 28 juta.

Butuh waktu enam bulan baginya untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Prioritas awal, ia mesti mencari mesin digital printing. Beruntung, mesin itu ditemukannya di Bandung. Ia juga mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendiri.

Mulailah dia memproduksi beberapa merchandise. Pada mulanya masih terbatas pada kaos dan pin. Ketika mulai stabil, Saptu memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni, yang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, ia meminta bantuan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yang juga tersebar di kota itu. Pada awalnya, target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp 400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp 900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp 1,5 miliar. Bermula dari sebuah ­kios kecil di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini Kedai Digital memiliki outlet di 21 kota di tanah air. Di antaranya di Jogyakarta, Solo, Semarang, , Magelang, Kudus, Klaten, Purwokerto, Sukoharjo, Wonol Madiun, Malang, Surabaya, Jember, Balikpapan, Sukabumi, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri