Saptuari Sugiharto: Narsisisme Bisnis Merchandise Kedai Digital

SAPTUARI SUGIHARTO MEMILIH menaruh rapat-rapat ijazahnya dari Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, demi menumbuhkan naluri bisnisnya. Wirausaha yang telah dirintisnya kuliah – mulai dari berjualan stiker, menjaga koperasi, sampai berjualan ayam potong – membuat insting-nya terhadap bisnis lebih terarah. Itu juga yang menjadi salah satu modal utamanya untuk memulai bisnis personal merchondise dan digital printing, Kedai Digital. Berdiri lima tahun lalu ini awalnya hanya memproduksi mug, pin, dan kaos yang dicetak eksklusif dengan foto diri pemesan. Tak disangka, usaha ini membuahkan hasil dan memperoleh pengakuan dari berbagai pihak. Saat ini Kedai Digital telah berkembang menjadi 31 kedai dan beromzet puluhan juta rupiah tiap bulan­nya. Keberhasilan ini merupakan buah dari prinsip Saptu, untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain.

Q: Saya Iihat ada kalimat yang menarik di mug ini, “Mau aku ubah DNA-mu?”

A: Total jenis produk mug itu ada 60. Idenya dulu pada tahun 2005, saatnya melihat dua anak muda berebutan merchandise setelah konser di Yogyakarta. Saya berpikir, kok bisa ya orang berebutan merchandise seperti orang rebutan makanan. Saya lalu berpikir bahwa ini bisa dibisniskan. Namun, sebenarnya wirausaha yang saya jalani terjadi karena faktor keter­paksaan. Ketika pertama kali kuliah di UGM, tahun pertama bingung nggak bisa bayar kuliah. Karena terpaksa itulah, saya lalu menjadi penjaga tas di Kopma UGM.

Q: Hambatan dan tantangan apa saja yang pernah dialami?

Q: Dalam bisnis ini tentu saja banyak persaingan dengan kompetitor. Apa saja antisipasi Anda?

A: Kuncinya tetap satu, yaitu inovasi. Jadi ketika dulu saya memulai, saya hanya bisa membikin satu mug berwarna putih. Dengan banyaknya per­mintaan – bahkan juga ide – akhirnya warnanya bervariasi. Lalu ditambah­kan lagi inovasinya, dengan meluncurkan mug bergagang hati. Ide lain, keramik putih untuk lantai diperbarui dengan menaruh cetakan foto di atasnya.

Q: Salah satu prinsip Anda adalah ATM (atasi, tiru, dan modifikasi). Tapi bagaimana jika produk Anda yang ditiru pihak lain?

A: Bisnis saya pendekatannya ada dua, secara profesional dan juga spiritual. Kalaupun saya ditiru, Insya Allah secara profesional orang sudah menirunya karena saya benar-benar melakukan percobaan sendiri. Selain itu, segmen pasar kami unik. Bila dulu kami membidik mahasiswa yang sedang pacaran, sekarang ini segmennya meluas. lbu-ibu yang hamil minta dibuatkan mug untuk selamatan 7 bulan anaknya. Bahkan, ada juga peringatan 100 hari meninggal yang meminta foto keramik di atas piring. Segmen Kedai Digital sekarang sudah mencakup janin yang belum lahir ke dunia sampai yang sudah berpulang ke akhirat.

Q: Anda terbiasa mengakomodasi permintaan desain dari pelanggan. Bagaimana bila ada pelanggan yang meminta desain yang belum pernah diproduksi?

A: Kami sudah menyiapkan ratusan template desain sebelumnya. Jadi, setiap pelanggan datang, sudah bisa melihat album. Untuk konsumen yang ingin lebih eksklusif, kami persilakan juga untuk duduk bareng bersama desainernya dengan hanya membayar Rp.25.000,- untuk sebuah mug.

Q: Bagaimana dengan konsep bisnisnya?

A: Kami memiliki konsep kemitraan yang mirip waralaba. Untuk soal Inovasi, kami berikan kebebasan kepada teman-teman mitra kami. Orang bisa saja membuat sarung bantal unik yang dibubuhi fotonya sendiri. Yang torpenting dalam konsep saya itu adalah bahwa bisnis merchandising ini mongandung unsur narsis dan emosi.

Q: Apa yang diperoleh mitra Kedai Digital selain boleh memakai merek­nya?

A: Bahan baku dan proses pelayanannya juga. Setiap bukan mitra juga membayar royalti sebesar 25%.

Q: Dengan sistem kemitraan ini, Anda telah melebarkan sayap sam­pai 31 cabang berdiri. Tapi tak ada satu pun yang berlokasi di mal. Mengapa?

A: Setelah saya pelajari, konsep merchandising itu berbeda dengan ketika kita menjual barang jadi di mal. Orang yang memilih, jebret, langsung setuju dibawa pulang. Tapi kami memiliki proses lain, yaitu konsultasi yang tidak bisa dilakukan di tempat ramai. Orang yang datang itu memang ber­tujuan membuat merchandise, bukan sekadar mampir. Ternyata ketika saya kembangkan konsep seperti ini, terbukti berhasil daripada teman-teman yang buka di mal.

Q: Apa yang menentukan dipilihnya sebuah lokasi?

A: Jelas di semua kota di Indonesia. Walaupun bukan kota besar, ada be­berapa kota yang kita rekomendasikan. Namun, tentu saja lokasi itu harus merupakan tempat-tempat yang gampang diakses. Tempat-tempat yang dekat dengan kampus diutamakan, bisa juga kampus atau sekolah, atau tempat anak muda nongkrong

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri