Nikmati Indahnya Berpikir Kreatif

Nikmati Indahnya Berpikir KreatifHanya orang yang fanatik yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak mau mengubah subjek.(Winston Churchill)

SEJAK LAHIR, BAYI-BAYI Indonesia langsung dibelenggu oleh generasi di atasnya, yaitu dibedong (konon agar tangan­nya tidak bengkok) dan begitu ia bisa berjalan, ke mana­mana digendong atau dituntun orang dewasa (babysitter, pembantu, nenek atau ayah/ibu). Begitu seorang anak melakukan kesalahan, ia dipukul, dicubit, dibentak atau dijewer. Anda menjadi takut melakukan kesalahan dan menjadi penakut.

Demikian pula dalam memilih sekolah, bahkan be­kerja, dan memilih pasangan hidupnya. Banyak orang yang tidak bebas melakukannya. Menginginkan “A, tetapi yang disetujui “B” yang kadang tak Anda sukai. Banyak batasan­-batasan yang membuat Anda terbelenggu menjadi tidak kreatif.

Berbahagialah kita yang dari kecil memiliki suatu potensi tetapi berhasil menemukan pintu keluarnya dan kemudian kita yakini itu sebagai sesuatu yang berbeda dari yang lain, dan mampu memberikan penghasilan bagi kehiclupan kita. Penghasilan ini juga bukan sekadar peng­hasilan biasa, tetapi mampu memacu kita untuk mengem­bangkan diri lebih jauh sampai akhirnya menjadikan Anda seorang guru dan banyak orang bisa menjadi pemimpin karma Anda.

Yang jadi masalah bagi kita semua adalah seringkali kita bekerja bukan pada potensi kita. Ini adalah sebuah perjalanan menemukan jalan yang sangat berat dan sangat panjang. Sampai kemuclian Leonardo Da Vinci mengatakan, pada setiap batu cadas selalu terkandung patung yang indah. Sebetulnya Leonardo Da Vinci ingin mengatakan tugas kita adalah melepaskan belenggu-­belenggu yang mengikat batu cadas tersebut sehingga keluarlah orang yang menemukan aura potensinya se­perti Wahyu Aditya.

Apa yang dapat dipelajari dari manusia kreatif seperti usahawan muda Wahyu Aditya ini?

  • Orang kreatif selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihan. la membuka usahanp melalui berbagai jalur, website, sekolah, festival, dan se terusnya. la menemukan semua jalannya dengan melatih diri, mengambil kertas, membuat buku, menggambar sketsa, menjadikan animasi.

Bakat saja tidak cukup. IQ juga tidak. Semua itu baru menjadi potensi, dan setiap potensi perlu menemukan pintunya.

(John C. Maxwell)

  • Orang-orang kreatif menghubungkan hal-hal yang tak terhubung. Semua yang terputus disambung, dibuat rangkaian hidup, karena ia bekerja dengan banyak orang.
  • Orang-orang kreatif membangunkan orang­orang kreatif. Wahyu aditya membangunkan para kreator dan memberikan mereka pintu.
  • Orang-orang kreatif menambah “value” pada apa yang ia ciptakan.
  • Orang-orang kreatif tidak takut kegagalan. Baginya, kegagalan adalah ibunya penemuan.
  • Orang-orang kreatif menolong kita belajar lebih banyak.
  • Orang-orang kreatif menantang status quo.
  • Orang-orang kreatif memerlukan disiplin. Salah satu alat pembentuk disiplin adalah pasar, yaitu adanya per­mintaan profesional yang mengharuskan kita bekerja tepat waktu dengan kualitas yang telah disepakati bersama.

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri