Jiwa Bisnis Sinta Sudah Terbentuk Sejak Kecil

Jiwa Bisnis Sinta Sudah Terbentuk Sejak KecilRupanya, jiwa bisnis sudah terbentuk dalam diri Sinta sejak ia kecil. Karena tak ingin putus sekolah seperti kakak-kakaknya, Sinta kecil yang ketika itu duduk di kelas 6 SD, diam-diam be­kerja. Apa yang ia jual? Sama seperti yang men­jadi bisnis utamanya kini, yaitu keripik pisang. Otaknya terus berputar untuk bisa membantu keluarga. Duduk di bangku SMP, ia sempat mem­bantu ayahnya bekerja di bengkel teralis besi.

Keuletan dan ketangguhannya juga terlihat ketika ia berusaha mengembangkan keripik pisangnya. Memang ia beruntung, karena rumah orang tuanya berada di tempat yang strategic. Lokasinya persis di pinggir jalan. Rupiah demi rupiah kembali ia kumpulkan. Kali ini sebagai modal, melainkan berupa keuntungan. Ia pun makin terpacu untuk lebih giat mengembangkan usaha. Akan tetapi, perusahaan keripik pisang (baik yang dikelola secara rumahan, maupun yang sudah terbilang modern) sepertinya bisa ditemui hampir di setiap kota Lampung. Lalu bagaimana Sinta bisa bersaing dengan para pengusaha keripik pisang yang sudah menjalankan bisnisnya selama bertahun-tahun bahkan menjadi usaha turun-temurun?

la percaya bahwa bisnis itu akan bisa mengangkatnya dari lembah kemiskinan bisa membuat keluarganya hidup lebih sejahtera. Ketika kecil, Sinta dan keluarga sering sekali berpindah rumah.

Sinta sadar bahwa ia harus melakukan inovasi karena persaingan pengusaha keripik pisang makin menggila. Salah satu caran­ya memberikan pelayanan terbaik adalah membiarkan calon pembeli mencicipi keripik pisang buatannya sebelum memutuskan untuk membeli. Ia juga berkreasi dengan menghasilkan 9 rasa keripik di luar rasa yang standar. Dengan begitu pembeli bisa memilih rasa yang cocok dengan seleranya. Ada rasa stroberi, cokelat, keju, dan jagung. Selain itu, ia juga mempertahankan keripik dari umbi-umbian lain, untuk menarik pembeli yang mungkin saja bosan dengan keripik pisang.

Kerja keras memang modal utama Sinta. Tapi ia tak pernah lupa berdoa agar usahanya bisa selalu berjalan lancar. Sinta juga sadar bahwa sebagian kekayaannya bukan miliknya seutuhnya. la merasa harus berbagi kepada sesama. Karena itu, ia juga rajin memberikan zakatkepada orang yang membutuhkan. Sering kali ia memberi zakat kepada orang-orang di daerah terpencil, tempat yang sering ia datangi untuk mengambil bahan baku pisang.

Baru tiga tahun usahanya berjalan, ia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi 13 karyawan. Sebagian dari mereka adalah tetangganya sendiri.Sama seperti ketika ia bekerja dipabrik keripik pisang dulu yang merupakan milik tetangganya. Sinta ingin mengembangkan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya dan membantu meraka semampunya. Meski telah tumbuh menjadi seorang jutawan muda, Sinta tidak berubah menjadi manusia yang sombong. la tetap tampil sebagai wanita rendah hati yang punya segudang mimpi untuk keluarga tercinta.