Hobi Animasi untuk Memperbaiki Citra Negeri

BERHASIL MEMENANGKAN LOMBA menggambar tingkat kabupaten pada saat duduk di bangku taman kanak-kanak, menumbuhkan keyakinan Wahyu Aditya bahwa menggambar adalah kegiatan yang dapat menghasilkan kesejahteraan. Berbekal pendidikan multimedia di Sydney, pengagum Walt Disney ini tergerak untuk membuka lembaga pendidikan animasi, HelloMotion. Sebagai wadah ponggerak kemajuan animasi dan sinema Indonesia, misinya sungguh luar bia­sa la ingin menjadikan pusat animasi dan sinema terbaik di Asia Tenggara, dan monjadikan creator Indonesia lebih maju. Lelaki kelahiran 4 Maret 1980 ini terus memperbaiki kualitas HelloMotion yang kini telah beromzet miliaran rupiah.

Q: Bagaimana mulainya terjun ke animasi?

A: Terjun ke animasi awalnya karena hobi. Lewat kertas kosong saya bisa mengekspresikan imajinasi, sampai akhirnya saya jatuh cinta karena ani­masi itu ternyata tak ada limitnya. Di situ kita bisa melihat gerakan, suara, dan gambar, berkumpul menjadi satu. Dulu awalnya dengan mengikuti cara menggambar Pak Tino Sidin.

Q: Oke, lalu bagaimana ceritanya saat akan membuat sekolah animasi?

A: Saya dulunya bekerja secara profesional, yang berarti saya banyak memproduksi animasi. Cuma, saya sedikit gelisah terhadap perkembang­an animasi di Indonesia. Jadi saya pikir daripada saya membuat animasi sendiri, lebih balk saya menciptakan banyak animator baru yang bisa mendukung animasi Indonesia lebih ‘bunyi’ lagi. Itu sebabnya saya mem­huat sekolah. Ternyata, gedung belum ada, yang mendaftar sudah sekitar 40 orang ketika saya mengikuti pameran dan berpromosi lewat internet.

Q: Juga mengadakan festival?

A: Festival adalah satu bagian dari strategi promosi, yang murah tapi bisa lengket dengan komunitas saya karena memberi ruang apresiasi kepada kreator-kreator di daerah. Misi saya, selain mengembangkan animasi Indo­nesia, jugs ingin mencari harta karun terpendam, kalau bisa yang berada di luar Jakarta. Ternyata lagi, kebanyakan mereka sudah bikin, tapi tidak tahu mau diputar di mana. Akhirnya mereka membuat networking sendiri untuk mempromosikan karyanya, dilihat banyak orang, diliput wartawan, dengan harapan animasi Indonesia maju.

Q: Anda menyebut situsnya sebagai Kementerian Desain Republik Indonesia. Anda merasa perlu ada profesi khusus untuk menteri desain?

A: Itu hobi saya yang lain. Selain animasi saya suka mendesain, ter­utama logo-logo. Saya perhatikan, kebanyakan logo pemerintah itu padi, kapas, atau pohon beringin. Bikin saya gelisah. Saya ungkapkan lewat blow dengan nama Kementerian Desain Republik Indonesia. Ternyata efek sampingnya lumayan dahsyat. Rupanya banyak orang yang punya pemikiran sama. Sekarang saya tidak mendesain lagi. Tidak ngulik desain logo lagi. Tapi orang-orang dari Padang, Bandung, dan Malang, mengirim desain versi mereka sendiri untuk membangun Indonesia agar image-nya lebih balk. Mungkin hal ini disebabkan jiwa nasionalis, ya. Ketika saya kuliah di Sydney, saya melihat Indonesia dari jauh. Ternyata image Indonesia itu kurang oke. Kita dianggap korup, miskin, tidak kreatif. Secara branding pun, saya melihat yang melakukannya adalah Singapura dan Malaysia. Kenapa Indonesia tidak ada? Saya sebagai warga negara Indonesia ingin menyum­bang sesuatu.

Q: Menteri Desain Indonesia itu adalah julukan dari komunitas Hello-Motion kepada Wahyu. Tapi ada sambungannya, “belum atau tidak sah”. Takut dituntut, ya?

        A: Sebenarnya itu hanya konsep saja. Kalau diterima Presiden, ya syukur Alhamdulillah.

Q: Dulu pernah ada anggapan bahwa orang-orang yang bergerak di industri kreatif itu berantakan. Tapi saya melihat sekarang ini lain. Anda bekerja tertib, bertahan, membangun secara perlahan-lahan dengan rencana dan menaruh perhatian kepada people development atau pengembangan orang. Anda juga pernah memperoleh award pads level internasional?

A: Ya, penghargaan sebagai anak muda kreatif. Hadiahnya 7,500 Poundsterling. Karena uang itu harus digunakan untuk membangun sesuatu yang ada hubungannya dengan Inggris, saya kirim dua staf termasuk saya sendiri untuk melihat dan mensurvei industri kreatif di sana. Kami tinggal di Inggris selama hampir 2 minggu.

Q: Orangtua banyak bertanya, bagaimana caranya agar anaknya kreatif. Apa saran Anda agar anak-anak mereka lebih kreatif lagi dan mereka bisa memanfaatkan proses kreatif yang ada dalam diri mereka masing­masing?

A: Mungkin harus dikasih ruang. Dulu, orangtua saya membebaskan saya untuk berekspresi melalui gambar. Tapi dari diri saya sendiri, saya juga pu­nya tanggung jawab untuk membuktikan kepada orangtua apakah pilihan saya itu benar. Setiap minggu saya ikut lomba gambar.

Selepas dari Trans TV, Adit memilih bekerja freelance selama satu tahun. Karena keterampilan dan pengetahuannya solid, ia bisa melakukan pekerjaan apa pun. Dari animator, sutradara, ataupun produser. Proyek pertama yang ditanganinya adalah klip video Padi berjudul Bayangkanlah. Klip ini memenangkan “Best Video Clip of The Month” Video Music Indonesia (2002) dan “People Choice Award” Video Music Indonesia 2002. Sejak saat itu, tawaran demi tawaran mengalir padanya.

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri