Hendy Setiono: Mencari Partner Bisnis

Hendy Setiono Mencari Partner BisnisMengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Namun keinginan untuk membuka usaha kebab tak terbendung lagi. Begitu tiba di Surabaya, Hendy langsung menyusun strategi bisnis. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari rekan bisnis. Ayah tiga anak ini tidak ingin usahanya asal-asalan. Ia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang seni kuliner.

Mereka kemudian sepakat untuk melakukan bisnis yang sarat trial and error. Hal ini dilakukan untuk menjajaki peluang bisnis, pangsa pasar, serta resep kebab yang dapat diterima lidah orang Surabaya. Ia mengaku pernah membuat kebab dengan resep dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya kuat. Namun ternyata tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Oleh sebab itu ia memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familiar dengan orang Indonesia. Hingga akhirnya, terciptalah resep kebab Turki ala Hendy dan Hasan. Kombinasi bahan yang digunakannya membuat lidah tergiur. Bayangkan daging panggang berbumbu, menyebarkan aroma yang membangkitkan selera. Ditingkahi irisan sayur segar, mayonnaise, saus tomat dan sambal istimewa, dengan penyajian menarik: digulung dalam lembaran tortilla lembut.

Proses memformulasikan resep yang tepat membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Dengan modal sekitar 10 juta rupiah, pada September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Masa-masa awal usahanya, diakui Hendy sangat berat. Pernah, sejumlah uang untuk berjualan dibawa lari karyawan. Turn over karyawan juga sangat tinggi. Baru beberapa minggu bekerja, karyawan minta keluar. Bahkan, ia dan istrinya, Nilamsari, suatu ketika harus berjualan sendiri. Namun, karena kebetulan hari hujan, tak banya orang lalu-lalang untuk jajan. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Karena tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan usaha kebabnya, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah di Fakultas Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya (ITS), hingga akhirnya harus putus sekolah. Tentu saja hal itu sangat mengecewakan orangtuanya. Namun Hendy berjanji tidak akan menyia-nyiakan bisnisnya, suatu janji yang di kemudian hari dibuktikannya dengan jitu.