Hafiz Khairul Rijal: Manisnya Bisnis Es Dawet Cah Mbanjar

Hafiz Khairul RijalSepuluh kali gagal tak membuat Hafiz jera. Berbekal ketekunan, di usaha kesebelas ia sukses memasarkan minuman tradisional jawa di Medan. Bahkan lewat sistem waralaba kini bisnisnya merebak hingga ke seluruh Sumatera dan menghasilkan laba puluhan juta rupiah per bulan.

PERNAHKAH ANDA MENCICIPI Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara? Rasa minuman tradiaional yang terbuat dari tepung beras, gula aren, santan dan aroma pandan wangi ini manis dan lezat, sangat menyegarkan lebih-lebih di hari panas. Bagi Hafiz Khairul Rijal, usaha dawet ini tentu saja juga manis dan menyegarkan. Betapa tidak, berkat Dawet Ayu Banjarnegara ini kini Hafiz bisa meraih laba puluhan juta rupiah sebulan.

Berkat bisnis yang dirintianya pada tahun 2006 sarjana teknik, lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) ini telah mampu mempekerjakan 27 karyawan. Ia juga telah memiliki beberapa unit mobil dan sepeda motor, serta ratusan armada gerobak untuk berjualan Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara di Medan, Aceh, dan sekitarnya. Dalam tempo sekitar dua tahun setelah merintis usaha ini, ia juga telah mampu membeli hak paten resep dan bahan baku es dawetnya senilai Rp 50 juta.

“Alhamdulilah, usaha kami bisa berkembang dengan baik,” katanya. Lewat siatem franchiae yang dikembangkannya, usahanya kini sudah berkembang hingga ke Banda Aceh, Sigli, Lhoksumawe dan Langsa. Ia menargetkan, pada akhir 2009 bisnisnya bisa mencapai 500 gerobak.

Sejak tahun 2000, ketika masih duduk di bangku kuliah, anak pegawai negeri sipil ini telah mulai berwirausaha. Ia menjadi anggota
Student Entrepreneurship Center (SEC) unit Bina Kokulikuler Sahiva, Universitas Sumatera Utara (USU). Boleh dikatakan segala jenia usaha pernah dilakukannya. Ia pernah berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong sayur, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering, dan MLM.

la pernah berjualan sandal dan sepatu, kaos kaki, keripik ubi, laundry, warung ayam bakar, warung ayam goreng, lontong saym, bakso dan mie sop bawor, parfum, katering dan MLM. Meski terasa menyakitkan, namun kegagalan demi kegagalan ini dianggapnya membawa hikmah.

Meski terasa menyakitkan, namun kegagalan demi kegagalan itu dianggapnya membawa hikmah. Setelah direnungkannya, ia tahu alasan mengapa ia gagal. “Sebelum usaha Es Dawet Cah Mbanjar ini, usaha saya tidak fokus, tidak konsisten, dan tidak persisten,” kata­nya. Segala macam usaha dicobanya tanpa didalami lebih dulu. Begitu merugi, ia langsung beralih ke usaha lain lagi. Begitu terus, hingga Ahirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah di Aceh Monitoring Mission (AMM) misi perdamaian Aceh, di Bireuen sekitar setahun (2006-2007). Usai bekerja di sini Hafiz menjadi penerjemah untuk para pengamat Pilkada Aceh dari Uni Eropa (2007).

Gagasannya untuk kembali berbisnis berawal dari suatu kebe­tulan. Ketika mengambil libur dari pekerjaan sebagai penerjemah di AMM, ia pulang ke Medan. Suatu hari ia singgah di kaki lima sebuah jalan untuk menikmati segelas es dawet – minuman tradisional asal Jawa yang populer di Medan. Dari obrolan ringan dengan penjual es dawet, Hafiz sangat tertarik dengan keuntungan dari berjualan es dawet ini. Dengan modal sekitar Rp 300 ribu per gerobak, pemilik­nya bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 100 ribu. Karena si pemilik mempunyai 25 gerobak, maka laba bersihnya per hari mencapai Rp 2,5 juta. “Dalam sebulan, si pemilik yang tamatan SMA bisa mendapatkan laba hingga Rp 75 juta. Padahal dia cukup duduk di rumah, karena yang berjualan orang lain,” tutur Hafiz penuh antusias.

 BIODATA

HAFIZ KHAIRUL RIJAL

Jakarta, 13 Agustus 1978

Email: liafizkhairulrijal@yahoo.com

PENDIDIKAN:

1998-2005 SI Teknik Industri Universitas Sumatera Utara

NAMA USAHA:

PT. Djawara Fizta Group

Alamat: JI. Komplek Taman Setia Budi Indah Blok PP No.9 & 12, Medan.

Telp/Fax: 061 8211307, HP: 0816 313 9511

Website: www.dawetcahmbanjar.com

Email: dawetcahmbanjar@yahoo.com

PENGHARGAAN:

2008 Finalia Wirausaha Muda Mandiri

LAIN – LAIN:

2006 – 2007 Interpreter AMM (Aceh monitoring Miasion)

2008 Interpreter PILKADA ACEH (2007)

2007 Interpreter PILKADA NAD

Kenyataan ini membuat Hafiz sangat tertarik terjun ke bisnisini. Jika manajemennya ditingkatkan lagi, pasti pendapatannya pun akan lebih baik lagi, pikirnya.

“Syaratnya, kita tak boleh sok gengsi. Tak boleh malu mendorong gerobak dan berjualan di kaki lima,” katanya.

Namun pengalaman kegagalan bertubi-tubi juga membuat sultan Citra Puspa Sari dan ayah Faqih Maidani Al Hafiz ini tak mau gegabah. Ia mau mempelajari seluk-beluk perdawetan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa menggantungkan nasibnya di situ. Akhirnya ia mendekati penjualnya, untuk minta izin berjualan es dawet. Dengan uang jaminan Rp 1 juta ia pun mendapat pinjaman satu gerobak (Inn mengambil es dawet sebanyak 50 gelas dengan harga Rp 60 ribu.

Bermodal gerobak pinjaman itu, Hafiz pun mulai berjualan ka wasan Sumber, Padang Bulan, Medan. Hasilnya? “Laris manis Tanjung Kimpul, dagangan habia kumpul,” katanya. Karena potensinya yang bagus, ia pun kemudian merekrut karyawan dan memutuskan membuka satu lagi cabang penjualan es dawet di daerah Setia Budi.

Selama dua tahun Hafiz hanya menjual dan mengambil bahan Baru pada bulan Mei 2008 ia dipercaya membeli hak paten bumbu es dawet dengan harga Rp 50 juta. Babak baru pun dimulai. Hafiz mnlid memproduksi es dawet secara mandiri dan mendaftarkan merek dagangnya. Ia juga mendaftar ke Departemen Kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendapatkan sertifikat halal.

Langkah berikutnya adalah menerapkan sistem waralaba (franchise) agar usaha ini bisa semakin berkembang. “Selain mendapatkan resep dan bahan baku dari kami, pewaralaba (franchiaor) akan mendapatkan pelatihan cara melayani, menjaga penampilan, dan menjaga hal-hal kecil lainnya yang umumnya jarang diperhatikan orang agar4 usaha ini dapat maju,” ujarnya.

Dengan konsep yang jelas, keuntungan yang diraup bisa mencapai di atas 50% dari modal yang dikucurkan. Tak heran bila tawaran;winl ini mendapat sambutan meriah. Pada September 2008, 27 armada gerobaknya bertambah dengan 60 gerobak mitra waralabanya. Pasarnya meluas hingga ke Aceh, khususnya di Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, dan Langsa.

Sebulan kemudian, persisnya di bulan Oktober 2008, Hafiz juga mendapat kucuran kredit program kemitraan dari Bank Mandiri se­hingga bisa menambah 50 gerobak lagi untuk pasar kota Medan.

Menurutnya, bisnis ini cukup mudah untuk dijalankan. Produknya pun sederhana dan mudah dibuat. Ditambah keunikan dengan ciri khas gerobaknya, calon pembeli mudah mengenali gerobak dan outlet Es Dawet Cah Mbanjar Banjarnegara.

Sukses dengan Es Dawet meyakinkan Hafiz akan manisnya bis­nis makanan dan minuman. “Saya akan fokus di bisnis ini,” katanya. Alasannya sederhana: selama orang masih membutuhkan makan dan minum, bisnis ini akan terus bergulir. la tengah mengincar se­jumlah makanan khas yang ada di Jawa untuk diboyong ke Sumatera dan sebaliknya. Pasalnya, berdasarkan pengamatan Hafiz, banyak orang Sumatera yang suka makanan Jawa, dan orang Jawa yang suka makanan Sumatera.

Untuk mendapatkan keahlian mengolah makanan dan minuman ini agar disukai, ia punya jurus ATM: Amati dengan baik, Tiru hal-hal yang baik dan positif, dan Modifikasi produk agar menjadi lebih baik lagi. Dengan kualitas produk yang lebih baik dan harga yang kompetitif, bisa dipastikan pembeli pun akan berdatangan dan datang lagi, datang lagi. Jika sudah begitu, bisa dipastikan kocek Hafiz akan semakin tebal.