Denni Delyandri, Di Batam Tidak Ada Kebun Pisang

Denni Delyandri, Di Batam Tidak Ada Kebun PisangPULAU BATAM YANG berada di jajaran kepulauan Riau memiliki keistimewaan karena jaraknya yang dekat dengan Singapura, sehingga memungkinkan banyak wisatawan dan usahawan yang melancong ke pulau ini. Potensi ini menjadi inspirasi bagi Denni Delyandri untuk menciptakan oleh-oleh khas kota Batam yang selama ini tidak ada. Kek pisang Villa, tercipta dari sebuah perjalanan panjangnya yang memulai usaha dengan berjualan onde-onde, krupuk hingga menjadi Event Organizer. Keahlian sang istri, Selvi Nurlia, dalam membuat kue akhirnya membuat Denni beralih ke bisnis kek pisang pada 2006. Awalnya hanya tiga loyang per hari, kini Denni yang memiliki motto “Take action and make Happen” mampu menjual 800 – 1000 loyang setiap hari dan memiliki 5 toko dengan omzet sekitar Rp. 25 juta per hari. Tidak hanya soal rasa yang dikembangkan dalam sejumlah varian, pengemasannya juga didesain secara khusus guna memudahkan konsumennya membawa pulang sebagai oleh-oleh. Kek Pisng Villa buatan Denni, tidak hanya menjadi ciri khas kota Batam, tapi juga menjadikan Denni juara 3 program Wirausaha Muda Mandiri 2008.

Q : Anda berasal dari Padang, memangnya punya darah dagang, ya?

A : Katanya begitu, tapi nyatanya tidak semua orang Padang bisa jadi pedagang. Karena teman-teman saya yang orang Padang, saat ini masih banyak yang jadi karyawan juga.

Q : Anda juga sempat menjadi karyawan ?

A : Iya, di salah satu perusahaan elektronik selama tiga tahun. Awalnya saya ke Pulau batam benar-benar untuk mencari pekerjaan, dan tidak berniat untuk membuka usaha. Namun ternyata menjadi karyawan itu tidak enak, karena semua dibatasi. Jam kerja dibatasi, izin dan keuangan juga dibatasi. Tidak akan pernah seorang karyawan mendapatkan hasil yang lebih dari jam kerjanya, karena aturan soal waktu. Misalnya dia bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore, maka hasil yang ia dapatkan hanya sebatas waktu tersebut.

Q : Tetapi kan pendapatannya pasti

A : Pasti, tetapi tidak mencukupi. Terlebih untuk keadaan saat ini

Q : Jadi menurut anda lebih penting tidak apsti tetapi mencukupi ?

A : Betul.

Q : Kek pisang ini terlihat unik. Terdiri dari berbagai macam varian, ya ?

A : Ada lima varian rasa : Blackforest, keju, blueberry, mixed fruit, dan original. Original adalah kek yang belum diberi topping. Perbedaan rasa setiap kue itu terletak di toppingya. Bentuk awalnya bulat, namun agar mudah dibawa dan dikemas secara baik, dimodifikasi menjadi bentuk kotak.

Q : Tadi disebutkan varian rasanya ada lima, tapi bukankah dulu variannya banyak sekali ?

A: Dulu awalnya kami sangat bergairah untuk membuat retail, sampai ada 12 rasa yang kami kembangkan. Ada rasa choco, mete, pandan, dan lainnya. Namun setelah kami meosisikan Villa sebagai produk oleh-oleh, jumlah varian sebanyak itu hanyak membingungkan konsumen saja. Selain itu biaya prodksi juga akan semakin meningkat. Setelah melewati riset akan rasa apa yang paling disukai, diperoleh lima rasa di atas.

Q : Konsep bisnis anda ini menarik karena oleh-oleh kuliner khas daerah ini belum dimiliki oleh Batam. Potensi apa lagi yang dimiliki Pulau Batam ?

A: Saat ini Batam sedang maju. Dulu hanya sekadar kota industri yang masyarakatnya sangat heterogen. Kini Batam menjadi tujuan wisata, bahkan menempati posisi nomor 3 setelah Bali. Hampir 1,5 juta wisatawan setiap tahun mampir ke pulau Batam untuk mengikuti MICE (Meeting, Invention, Convention and Exhibition), sehingga mobilitasnya tinggi. Maka dari itu kami memilih peluang di sana karena belum ada satu oleh-oleh pun yang menjadi ciri khas Batam. Selain itu kebiasaan orang Indonesia yang menitip buah tangan setiap kali ada kerabat atau sahabat yang berpergian ke tempat jauh. Inilah yang saya lihat sebagai peluang.

Q: Tapi, mengapa pisang? Bukankah di Pulau Batam tidak ada kebun pisang?

A: Benar, tidak ada kebun pisang di Pulau Batam. Namun, yang saya miliki saat itu hanyalah resep istri yang pandai membuat kek pisang. Cocok untuk dijadikan oleh-oleh yang unik. Pasokan pisangnya dapat didatangkan dari Sumatera Utara, cukup dekat ke Batam.

Q : Anda tadinya seorang karyawan. Kemudian berhenti dan berjualan. Anda tidak malu atau gengsi?

A: Tidak, selagi hal yang saya kerjakan itu halal, tetap saya jalani. Pernah ada kejadian, sewaktu saya berjualan retail, door to door, kami masuk ke kantor-kantor besar. Pada hari Jumat ketika akhir pekan, saat ibu-ibu biasa berbelanja, kami dekati mereka sambil menawarkan produk ini. Respons­nya sangat baik, sampai-sampai mereka berebutan. Di situ ternyata ada se­nior saya yang memerhatikan. Dia menghampiri saya dengan rasa kasihan sambil bertanya mengapa saya mau berjualan seperti ini. Karena kasihan, dia menawarkan pekerjaan juga kepada saya. Kemudian saya menjawab tidak apa-apa, ini adalah usaha saya. setelah lewat beberapa tahun, belum lama ini dia berbelanja di tempat saya, dia sempat terkagum-kagum karena usaha saya telah membesar. Saya pun menanggapinya dengan mengata­kan inilah hasil usaha saya yang kemarin.

 

Lama-kelamaan Selvi mulai kewalahan. Pada titik inilah Denni melihat ada peluang besar untuk membuka bisnis yang sebenarnya. Ia memberanikan diri mengambil risiko dengan berhenti bekerja untu menangani bisnis sepenuhnya.

Kerja keras mereka tidak sia-sia. Pesanan terus meningkat hingga rumahnya yang terletak di perumahan Villa Mukakuning se dengan kue. Pasangan ini pun memberanikan diri menyewa sebuah ruko, masih di kawasan Mukakuning.

Ruko ini menjadi tempat produksi sekaligus gerai penjualan Produk ini mulai dibranding dengan merek Kek Pisang Villa, diambil dari nama perumahan tempat tinggal. Agar mencolok, gerai ini dicat dengan warna orange. Dengan cerdik pasangan ini memosisikan produknya dan membangun brand association sebagai oleh-oleh khas Batam dengan tagline `Batam, Ya Kek Pisang Villa’. la juga membuat sebuah situs web www.oleh-olehkhasbatam.com dan www.kekpisangvilla.com.

“Saya beruntung karena selama ini Batam belum punya makanan khas, sehingga merek kami cepat berkembang. Alhamdulillah masyarakat Batam percaya pada kek buatan kami,” ujarnya.

Sukses di ruko Mukakuning, mereka merambah ke lokasi Batam Centre, Nagoya, Penuin, dan Bandara Hang Nadim Batam. Kedekatan lokasi ini membuat sejumlah instansi pemerintah maupun swasta mulai mengenal kek Villa sehingga usaha ini berkembang pesat. Bahkan di situs web www.oleh-olehkhasbatam.com Wakil Walikota Batam mengaku menjadi salah seorang langganan setia Kek Pisang Villa ini. Hanya dalam waktu setahun akhirnya ayah 3 orang anak ini sudah memiliki 5 gerai. Modal awal sebesar Rp 2 juta telah berbiak dalam omzet Rp 800 juta per bulan.

Agar mencolok, gerai ini dicat dengan warna orange. Dengan cerdik pasangan ini memosisikan produknya dan membangun brand association sebagai oleh­oleh khas Batam dengan tagline ‘Batam, Ya Kek Pisang Villa’.

Untuk lebih mempopulerkan produknya, Denni menjalin kerja sama dengan perusahaan travel dan supir taksi. Para pemandu wisata dan supir taksi akan mengarahkan wisatawan yang ingin berbelanja buah tangan khas Batam ke gerainya. Bahkan untuk semakin melekatkan tauten merek Kek Pisang Villa dengan citra Batam di benak wisatawan, setiap konsumen yang membeli sekotak kek (harga Rp 140 ribu), diberikan sebuah t-shirt bertuliskan Batam.

Untuk membangun jejaring dan memperluas wawasan usahanya, Denni rajin mengikuti berbagai seminar. Ia juga tak ragu mengikut I program Wirausaha Muda Mandiri. Hasilnya, tak sia-sia ia meraih Juara 3 Wirausaha Muda Mandiri Tingkat Nasional. Dengan bangga Denni menerima piala dan penghargaan yang diserahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo di Jakarta Convention Centre (JCC), pada 3 Desember lalu.

Denni telah membuktikan mottonya menjadi karya nyata. Sebahu
inspirasi bagi kita semua.

Kadang dalam hidup keadaan kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Misalnya, adanya krisis global, susahnya mencari pekerjaan, atau tiba-tiba terkena PHK. Janganlah menyerah. Lebih baik jangan berharap keadaan itu akan berubah dengan sendirinya. Kita harus inenjadi lebih baik, maka segalanya akan lebih mu­dah. Dan buat rekan-rekan mahasiswa, jangan hanya belajar dari teori. Tapi ambilah sebuah tindakan yang nyata, yang diiringi dengan belajar, maka hasil­nya akan lebih. bagus. Yang penting Take Action and Make it Happen!

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri