Denni Delyandri, Bersainglah Dengan Konsep

Denni Delyandri, Bersainglah Dengan KonsepProduk boleh sama, karya cipta mudah ditiru, namun yang membeda­kan adalah konsep dan orang dibela­kangnya.- Rhenald Kasali

DENNI DELYANDRI TIDAK bersaing dengan produk, tetapi bersaing dengan konsep. Kalau bersaing dengan produk, maka Anda akan terperangkap pada adu fungsi. Fungsi makanan adalah “mengenyangkan” dan “enak”. Fungsi kamar (hotel) adalah untuk ditiduri, kopi untuk mencegah ngantuk, air untuk mengatasi haus, dan seterusnya.

Selama Anda bersaing dengan produk, maka akan Anda temui pesaing-pesaing baru yang mampu mem­buat makanan yang lebih enak, lebih mengenyangkan, lebih nikmat, maknyus, dan tentu saja lebih mudah. Se­mua itu mudah dilakukan pendatang-pendatang baru dan tentu saja persaingan semakin lama akan menyulit­kan Anda.

Bersaing dengan konsep adalah bersaing dengan kecerdasan, yaitu apa yang hendak Saudara konsepkan dari produk Saudara. Ginseng dari Korea yang dikenal se­bagai “obat kuat” dapat dipasarkan sebagai teh ginseng yang 100% merupakan ginseng yang disajikan dalam bentuk tea bag dan dikonsumsi seperti Anda minum teh. Seorang pedagang durian menghadirkan suasana makan durian di kebun durian, dengan konsep suasana dan Denni Delyandri memasarkan kek pisangnya dengan konsep oleh-oleh.

Persaingan masa kini adalah persaingan dengan! konsep, yaitu apa yang Anda ingin konsepkan clari produh yang Anda buat. Konsep akan menentukan hubung,in Anda dengan pelanggan dan menentukan apa yang akan anda kerjakan dalam mengisi pasar.

Untuk bersaing dengan konsep, perhatikan tips berikut:

  • Desain procluk sesuai kebutuhan konsep. Bon kemudahan akses, kemudahan dalam membawa, dan konsumsi.
  • Konsistensi. Harus konsisten, jangan tergoda memasarkan “konsep” ke dalam pasar biasa demi me perluas pasar. Kue sus merek “X” di Bandung dulu sangat terkenal karena selain enak, juga merupakan oleh-oleh yang unik bagi orang Jakarta yang bepergian ke Bandung. Namun sejak “oleh-oleh” unik banyak diternui dengan mudah di atas kereta api dan toko-tokonya tersedia di Ja­karta, is kehilangan konsepnya, dan masuk ke dalam per­saingan biasa.

Sebuah konsep yang baik mencer­minkan sebuah pembedaan. Dicari karena keunikan dan kesan yang diciptakan.- Rhenald Kasali

 

  • Emosional. Cari celah emosional yang membuat Anda mengekspresikan emosi mereka dalam berbelanja.
  • Ciptakan perceived value positif, yang tercermin dalam kualitas dan harga segmen.
  • Pengembangan. Konsep bisa saja tetap tidak berubah, namun menampilkan produk, akses, dan selera dapat terus dikembangkan, disesuaikan dengan temuan-­temuan baru atau kebutuhan-kebutuhan baru.
  • Treaming. Bila varian sudah kebanyakan, perlu di­lakukan pengurangan jumlah produk atau variant Cream­ing, yaitu mengurangi jumlah varian. Denni Delyandri melakukan treaming varian dari 12 menjadi 5 rasa saja.

Sumber Buku: Wirausaha Muda Mandiri