Anggara Kasih Nugroho Jati: Entrepreneurship DNA

Anggara Kasih Nugroho JatiKetika lahir engkau menangia, tetapi dunia tersenyum gembira. Buat­lah hidupmu hidup sehingga ketika engkau mati, dunia menangisimu, tetapi ruhmu tersenyum menyambut surga. – Old Middle Eastern Blessing

BAGAIMANA SAYA TIDAK menjadi entrepreneur, saya lahir saja sudah dikelilingi barang-barang cagangan oranq tua,” ujar Ir Ciputra dalam salah satu seminar kewirausahaan belum lama ini.

Tak lama kemudian, di usia kanak kanaknya, Ciputra menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya menyelesaikan transaksi, melakukan order, memenuhi janji, dan seterusnya.

Seorang pimpinan perusahaan lain asal dari Peka­longan bercerita asal – mula jiwa wirausaha yang tumbuh kuat dalam dirinya. “Saga tinggal di sebuah pabrik tekstil, Ayah saya adalah pemilik pabrik itu.

Di pasar, kakak-kakak saya membuka toko. Selepas sekolah, saya diminta ayah mengayuh sepeda mengecek harga. Karena belum ada telepon seluler, saga harus mondar-mandir seorang diri, tanya sana tanya sini,” ujarnya mengenang masa lalunya.

“Lama-lama intuiai saya jadi terbentuk. Saya menjadi cepat dalam mengambil keputusan dan peka dalam judgement,” katanya lagi.

Apakah yang membentuk jiwa wirausaha kedua orang di atas? Garis keturunankah atau sosialiaasi?

Dulu kita percaya menjadi wirausaha membutuh­kan darah wirausaha. Banyak orang mengeluh talk bisa menjadi pengusaha karena mereka bukan keturunan orang Tionghoa, Yahudi, atau orang Padang.

Maka tak heran kalau usahanya tak maju-maju. Tetapi sekarang kita saksikan profesi sebagai wirausaha digeluti oleh orang dari berbagai kelompok etnik, latar belakang pendidikan, dan tentu saja ada sukses dan ada kurang beruntung.

Jadi, wirausaha bukanlah soal genetika, melain­kan pada siapa Anda mengekspos diri. Namun seperti kata pepatah, Anda menjadi sesuatu karena siapa yang menjadi teman-teman Anda, maka kita pun mengenal istilah entrepreneurship DNA, yaitu DNA perilaku yang di­dapat dari lingkungan kita untuk mendapatkan DNA ini,

Belajar, dapatkan dan kembalikan. Inilah tiga kunci kebahagiaan. Yang pertama kejarlah di bangku sekolah, yang kedua bungunlah karir atau bisnis, dan yang terakhir ketribalikan pada orang-orang yang kurang berun­tung sebagai rasa terima kasihmu. -Jack Balowsek

Perhatikanlah tip berikut ini:

  • Bergaullah seluas-luasnya dengan wirausaha sukses yang benar-benar profesional dan berpegan teguh pada etika. Tidak semua wirausaha itu murni pengusaha. Ada di antara pengusaha yang hanya mencari komisi yang kita sebut calo, atau pengusaha “plat merah” yang hanya bermodalkan koneksi pada pejabat dan menangkan tender karena menyuap. Mereka bukanhh pengusaha sejati, jauhilah mereka.
  • Milikilah benih-benih DNA kewirausahaan yang dasarnya adalah open mind (keterbukaan pikiran), disiplin, ekstrovert, kemampuan bersepakat, dan tahan banting.
  • Perkaya kemampuan membaca lapangan dengan mengasah intuisi dari persoalan-persoalan di lapangan.
  • Sekalipun Anda mendapatkan wariaan per­usahaan dari orangtua, Anda punya tugas memperluas usaha, dan memajukan usaha mereka. Bekerja lebih keraslah, jangan cepat putus asa atau merasa bahagia semata-mata karena menerima warisan belaka.
  • Jangan pernah merasa gengsi atau malu me­mulai segala sesuatu dari nol, karena semata-mata Anda anak seorang pengusaha.
  • Bila tak memungkinkan berusaha dari nol, be­kerjalah pada orang lain/perusahaan lain terlebih dulu. Rasakan dan nikmati rasanya menjadi bawahan dan memimpin pada perusahaan yang bukan milik sendiri.

Menuju Indonesia Jenius

Sang bintang school memperkenalkan kembali makna mengajar dengan hati, dan belajar dengan pikiran. Dua kalimat yang seakan sudah hiang dari dunia pendidikan kita. Sehingga mengajar sering menjadi beban bagi guru, dan belajar menjadi ancaman bagi murid.

Kita ingin generasi Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun kembali lahir. Generasi yang tak pernah kenyang dengan ilmu. Generasi yang tahu indahnya belajar…” (motto Teacher by Heart Sang Bintang School)

Motto di atas itulah yang menguasai pikiran dan hati Fahrurazi pendiri Sang Bintang School, lembaga bahasa Inggris. Dengan beraninya, lembaga ini menawarkan program Kampoek Jenius dengan waktu enam minggu yang dipopulerkan dengan tagline 6 Minggu Bisa!

Dengan konsep sederhana namun efektif dan didukung pengajar-pengajar muda, Sang Bintang School mencoba mendobrak dunia pendidikan non formal dengan revolusi cara belajar. Sang Bintang School hadir se­perti menyengat kesadaran kita bahwa belajar itu mudah.